224636

Peta Potensi Daerah Provinsi Banten



Usaha perikanan di Provinsi Banten meliputi jenis perikanan tangkap (laut dan perairan umum) serta perikanan budidaya (laut, tambak, kolam, sawah, keramba, jaring terapung). Produksi perikanan hingga tahun 2004 mencapai 76.324,05 Ton dengan nilai Rp. 538.130 Juta (merupakan penurunan dari produksi 87.279,40 Ton dengan nilai produksi Rp. 588.101 Juta pada tahun 2002). Penurunan produksi perikanan terutama dipengaruhi penurunan produksi perikanan tangkap yang mencapai 17,65% dalam kurun waktu 2002-2004, sedangkan penurunan produksi perikanan budidaya hanya sebesar 2,95%. Perikanan tangkap berkontribusi terhadap produksi sebesar 70,98% dan nilai produksi sebesar 54,24%, sedangkan perikanan budidaya berkontribusi terhadap produksi sebesar 29,02% dan nilai produksi sebesar Rp. 45,76%.

Potensi sumberdaya perikanan tangkap laut Provinsi Banten tersebar di Laut Jawa, Selat Sunda dan Samudera Hindia, atau pada wilayah perairan Provinsi Banten yang seluas 11.134,224 km2 (belum termasuk perairan nusantara/ teritorial dan zona ekonomi ekslusif indonesia/ZEEI), namun pengembangan penangkapan ikan saat ini masih terkonsentrasi di Laut Jawa dan Selat Sunda. Disisi lain, dalam Rencana Tata Ruang Kelautan Nasional (RTRKN, DKP 2003) pengembangan penangkapan ikan di Laut Jawa sudah harus dibatasi terkait dengan kecenderungan over fishing. Potensi sumberdaya perikanan tangkap laut sendiri masih berpeluang besar untuk dikembangkan, hal ini setidaknya tercermin dari produksi tahun 2005 yang sebesar 58.753,11 Ton baru memanfaatkan 76,98% dari potensi lestari di wilayah perairan Kab. Pandeglang (92.971 Ton), sehingga belum memperhitungkan potensi lestari wilayah perairan lainnya.

Produktivitas usaha perikanan budidaya masih perlu ditingkatkan, antara lain tercermin dari kondisi pada tahun 2005 dimana produktivitas budidaya tambak baru mencapai 0,87 Ton/Ha dan budidaya ikan di sawah mencapai 0,72 Ton/Ha. Disamping itu produksi budidaya laut baru berkontribusi 12,91% terhadap produksi perikanan budidaya atau 3,74% terhadap produksi perikanan keseluruhan. Potensi sumber daya perikanan budidaya juga masih berpeluang besar untuk dikembangkan, seperti budidaya laut (KJA dan rumput laut) di pantai utara dan pantai barat, lahan tambak hingga tahun 2005 baru dimanfaatkan sekitar 79,7 % (10..970,70 Ha) dari potensi 13.768,9 Ha, lahan sawah yang dimanfaatkan untuk budidaya perikanan baru sekitar 6,18% (5.209,22 Ha) dari 84.315,40 Ha, ketersediaan lahan yang masih memadai untuk pengembangan kolam budidaya ikan yang baru memanfatkan 1.280,76 Ha, serta keberadaan perairan umum (sungai, waduk, situ) untuk pengembangan budidaya keramba.

Berdasarkan jumlahnya, armada perikanan tangkap mengalami penurunan dari 5.129 unit (tahun 2002) menjadi 4.804 unit hingga tahun 2005. Dalam usaha penangkapan ikan hingga tahun 2004 didominasi oleh penggunaan armada Perahu Motor Tempel (65,24%) dan Kapal Motor hingga 20 GT (23,36%), hal ini menunjukkan kapasitas usaha penangkapan ikan masih rendah dan berorientasi pada wilayah perairan pantai (hingga 12 Mil). Di samping itu, dengan melihat zona penangkapan ikan yang dapat dimanfaatkan (perairan pantai hingga ZEEI), belum didukung dengan keberadaan pelabuhan perikanan yang memiliki kapasitas pelayanan yang setara dengan potensi wilayah perairan.

Bila mengacu pada standar konsumsi ikan per kapita (FAO), jumlah produksi ikan di Provinsi Banten belum mampu memenuhi kebutuhan lokal terhadap pangan yang berasal dari protein ikan, dimana dengan jumlah produksi sebesar 86.531,14 Ton (2005) dan jumlah penduduk 9.083.144 Jiwa hanya mencapai 9,2 Kg/Kapita/Tahun (32,82%) dari yang sekurangnya 29 Kg/Kapita/Tahun. Meskipun belum terpenuhinya kebutuhan lokal, produk perikanan Provinsi Banten sudah merambah pasar luar negeri meskipun masih terbatas, dimana komoditi Udang Beku pada tahun 2003 di-eksport melalui 3 perusahaan cold storage dengan kapasitas produksi 280 Ton/Tahun dan dengan negara tujuan Jepang dan USA.

Dengan memperkirakan nilai PDRB ADHB Sub Sektor Perikanan hingga tahun 2004 yang sebesar Rp. 495,52 Milyar, serta jumlah Masyarakat Perikanan yang sebesar 158.673 jiwa, maka pendapatan per kapita masyarakat perikanan hingga tahun 2005 masih dalam tingkat yang memprihatinkan, yaitu hanya berkisar Rp. 3.122.930/tahun atau Rp. 260.244/bulan. Selanjutnya, sebagian besar kelompok masyarakat ini termasuk golongan miskin dengan pola usaha yang masih tradisional dan bersifat subsisten. Minimnya akses terhadap informasi dan sumber permodalan, menyebabkan masyarakat petani/nelayan tidak dapat mengembangkan usahanya secara layak ekonomi. Bahkan, dalam tahun-tahun terakhir kenaikan BBM yang menaikkan ongkos produksi telah mengurangi intensitas nelayan untuk melaut.  


Potensi Daerah Objek Kelautan
Budidaya Jaring Terapung (4) potensi
Budidaya Kolam Air Deras (2) potensi
Budidaya Tambak (1) potensi
Ikan Hasil Budidaya Laut (12) potensi
Ikan Laut yang Memiliki Nilai Ekonomis Tinggi (6) potensi
Penangkapan di Laut (4) potensi
Potensi Daerah Usaha Kelautan
Budidaya Jaring Terapung (0) potensi
Budidaya Kolam Air Deras (0) potensi
Budidaya Tambak (0) potensi
Ikan Hasil Budidaya Laut (0) potensi
Ikan Laut yang Memiliki Nilai Ekonomis Tinggi (0) potensi
Penangkapan di Laut (0) potensi
Potensi Daerah Objek Perikanan
Bandeng (2) potensi
Cakalang (1) potensi
Nila Gift (5) potensi
Patin (3) potensi
Rumput Laut (1) potensi
Tuna (1) potensi
Udang (7) potensi
Udang dan Bandeng (0) potensi
Udang Windu (2) potensi
Potensi Daerah Usaha Perikanan
Bandeng (0) potensi
Cakalang (0) potensi
Nila Gift (0) potensi
Patin (0) potensi
Rumput Laut (0) potensi
Tuna (0) potensi
Udang (0) potensi
Udang dan Bandeng (0) potensi
Udang Windu (0) potensi

Potensi-potensi Daerah Provinsi Banten






















 

.:: Video Galeri ::.

.:: Photo Galeri ::.